Selasa, 10 Desember 2013

COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission)



Organisasi ini dibuat di Amerika pada tahun 1970-an oleh sektor swasta. Dan tujuan dari organisasi ini adalah untuk menghindari tindakan-tindakan korupsi yang terjadi pada tahun tersebut. Misi utama COSO adalah memperbaiki/ meningkatkan kualitas laporan keuangan entitas melalui etika bisnis, pengendalian internal yang efektif, dan corporate governance. COSO mengembangkan studi mengenai sebuah model untuk mengevaluasi setiap pengendalian internal.

Dari gambar disamping juga dapat ditarik kesimpulan bahwa COSO Framework adalah suatu sistem pengendalian yang terdiri dari berbagai unit-unit dan beberapa aktivitas dengan tujuan mencapai efektif dan efesiensi dalam suatu operasi dan menghasilkan laporan keuangan yang baik serta kepatuhan atas hukum dan peraturan yang berlaku. dalam gambar diatas terdapat 5 Framework dan berikut ini penjelasannya:

1.   Monitoring
Kegiatan dalam bagian ini adalah menilai mutu pengendalian internal secara berkelanjutan maupun periodik. Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah pengendalian internal telah berjalan dengan baik dan telah dilakukan penyesuaian sesuai situasi dan kondisi yang ada atau belum. Dalam bagian ini juga terdapat beberapa komponen di dalamnya, yakni:
·      On going Monitoring (pengawasan yang terus berlangsung)
Artinya, dalam menilai mutu tiap-tiap pengendalian internal perlu dilakukan pengawasan secara terus menerus agar dapat dipastikan bahwa pengendalian internal yang dilakukan itu sudah berjalan dengan baik. Dan dari kegiatan ini pula, bagian yang mengevaluasi dapat memahami perkembangan kualitas pengendalian internal dari waktu ke waktu.
·      Separate Evaluation (evaluasi yang terpisah)
Dalam melakukan evaluasi pengendalian internal haruslah terpisah. Agar, hasil dari evaluasi tersebut tidak diketahui oleh banyak orang dan dapat terjaga kerahasiaannya.
·      Reporting Deficiencies (melaporkan kekurangan-kekurangan yang terjadi)
Setelah dilakukan berbagai macam evaluasi, maka tahap berikutnya dalah melaporkan kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam pengendalian internal kepada pihak-pihak yang terkait.
2.    Information and Communication
Dalam bagian ini, hal yang dilakukan adalah mencatat, memproses, dan melaporkan transaksi yang sesuai untuk menjaga akuntabilitas. Maksudnya, dari hal-hal yang telah dilakukan tadi, nantinya akan menghasilkan informasi-informasi yang di butuhkan oleh beberapa pihak. Dan informasi-informasi tersebut nantinya akan di komunikasikan kembali  atau di salurkan lagi pada pihak-pihak lain yang membutuhkannya. Informasi dan komunikasi mempunyai 2 komponen, yakni:
·      Quality of Information (Kualitas Informasi)
Kualitas sebuah informasi berpengaruh dalam pengambilan sebuah keputusan. Jadi, dalam memberikan informasi kepada pihak lain, haruslah dilihat dulu kualitasnya. Karena, tidak menutup kemungkinan informasi-informasi tersebuat akan di kirimkan ke pihak lain yang cakupannya lebih luas.
·      Effectiveness of Communication (Efektivitas Komunikasi)
Dalam penyampaian sebuah informasi juga diperlukan keefektivitasan komunikasi dalam setiap penyampaiannya. Hal ini diperlukan agar pihak yang menerima informasi tidak salah paham dengan informasi-informasi yang telah disampaikan.
3.    Control Activities
Control Activities disini lebih kepada tindakan-tindakan yang diambil pihak manajemen dalam rangka pengendalian internal. Control Activities mempunyai 5 komponen, diantaranya:
·      Policies and Procedures (Kebijakan dan Prosedur)
Dalam pengendalian internal, perlu adanya kebijakan dan prosedur yang jelas dalam setiap aktivitasnya. Hal ini dilakukan agar setiap kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik.
·      Security (aplication and network) / keamanan dalam hal aplikasi dan jaringan
Setiap perusahaan di harapkan mempunyai sistem keamanan yang baik dalam hal aplikasi maupun jaringan. Tujuannya adalah agar tindakan yang dilakuakan dalam rangka pengendalian internal dapat terjamin keamanannya dan semua aktivitasnya dapat berjalan dengan lancar.
·      Business continuity or backups (kelangsungan bisnis)
Ketika pengendalian internal dalam sebuah perusahaan sudah bagus, diharapkan kelangsugan bisnis dalam perusahaan itu juga dapat berlangsung dengan baik.
·      Outsourcing (memakai tenaga kerja outsourcing)
Tenaga kerja yang dipakai untuk mengontrol aktivitas pengendalian internal adalah tenaga kerja outsourcing.
4.    Risk Assesssment
Risk Assessment adalah tindakan yang dilakukan manajemen untuk mengidentifikasi, menganalisis risiko-risiko yang relevan dalam penyusunan laporan keuangan dan perusahaan secara umum. Yang termasuk dalam risk assessment adalah:
·      Company wide objective (tujuan perusahaan secara keseluruhan)
Identifikasi dan analisis yang dilakukan itu berkaitan dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan. Tujuannya adalah agar manajemen dapat mengetahui gambaran umum hal apa yang sebenarnya diinginkan perusahaan tersebut.
·      Process level objevtive (tujuan disetiap tingkat proses)
Selain untuk mengetahui gambaran secara umum, manajemen juga membutuhkan gambaran khusus dari tiap proses yang dilakukan. Jadi, dalam hal ini perlu juga dilakukan analisis dan identifikasi.
·      Risk Identification and Analysis (Identifikasi resiko dan analisisnya)
Tindakan yang dilakukan oleh manajemen adalah mengidentifikasi setiap resiko yang ada dan menganalisis resiko-resiko tersebut.
·      Managing Change (mengelola perubahan)
Ketika semua resiko sudah diidentifikasi dan dianalisis, maka dapat dihasilkan suatu kesimpulan. Dan dari kesimpulan tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan. Oleh karena itu, manajemen dalam hal ini bertugas mengelola perubahan-perubahan tersebut.

5.    Control Environment
Ini adalah kebijakan atau tindakan manajemen yang mencerminkan sikap manajemen puncak secara keseluruhan dalam pengendalian manajemen. Yang termasuk dalam control environment adalah:
·      Integrity and Ethical Values (Integritas dan Nilai Etika)
·      Commitment to Competence (Komitmen terhadap kompetensi)
·      Board of Directors and audit committee (dewan komisaris dan komite audit)
·      Management’s Philosophy and operating style (filosofi manajemen dan gaya mengelola operasi)
·      Organizational structure (struktur organisasi)
·      Human resource policies and prosedures (kebijakan sumber daya manusia dan prosedurnya)



0 komentar:

Posting Komentar